Kamis, 13 Maret 2014 , 06:39:00
TEGAL - Setelah
beberapa hari berstatus waspada, Gunung Slamet kembali mengeluarkan abu
tebal kemarin (12/3) sekitar pukul 06.53. Letusan abu berwarna hitam
pekat itu berlangsung sekitar tiga menit, sebelum akhirnya kembali
tertutup kabut. Meski berlangsung singkat, aktivitas terbaru itu
mengakibatkan warga di lima kabupaten, yakni Purbalingga, Banyumas,
Pemalang, Brebes, dan Tegal, harus waspada.
Ketua Tim Pengamat Gunung Slamet di Pos
Pengamatan di Gambuhan Sudrajat menjelaskan, letusan abu tebal itu
terÂlontar dengan ketinggian berkisar 800 hingga 1.000 meter. Menurut
dia, letusan itu tergolong kecil. “Dari lontaran abu dan angin yang
berembus, diprediksi lontaran abu vulkanis mengarah ke barat yang
mencakup wilayah Kabupaten Tegal dan Brebes,” katanya
Sudrajat menambahkan, sejak dinyatakan
masuk level waspada pada Senin (10/3) pukul 21.00, baru kali ini Gunung
Api Slamet mengeluarkan abu yang terpantau dari pos pengamatan.
“Sebelumnya enam kali letusan asap, baru kali ini mengeluarkan letusan
abu,” katanya.
Kabar meletusnya Gunung Slamet itu
sempat membuat heboh media sosial. Kemarin siang beredar kabar lewat
SMS dan media sosial lainnya yang menyatakan status Gunung Slamet siaga
2. Itu langsung dibantah Sudrajat. “Status gunung slamet masih pada
waspada level 2 dan kabar siaga 2 yang lewat SMS itu berita tidak
benar,” tandasnya.
Kebetulan Rabu sekitar pukul 10.00
berkumpul tim SAR dari lima kabupaten (Purbalingga, Banyumas, Pemalang,
Brebes, dan Tegal) untuk berkoordinasi sehubungan dengan berita status
Gunung Slamet yang beredar di masyarakat. "Kami berkoordinasi karena
ada berita palsu," kata Humas Galawi Rescue Arif Rahman Hakim.
Berdasar pantauan Radar Tegal (JPNN
Group) sampai kemarin sore, aktivitas warga masyarakat di sekitar
lereng gunung, yaitu Guci, Sawangan, dan Sigedong, masih normal.
“Aktivitas kami di sini masih normal dan berita letusan Gunung Slamet
kami anggap biasa saja. Tetapi, kami tetap waspada,” kata Nursyamsi,
warga Desa Sigedong.
Belajar dari letusan Gunung Sinabung
dan Kelud, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari berbagai satuan sudah
menyiapkan jalur evakuasi untuk menyelamatkan pengungsi. Bahkan,
personel TNI yang jumlahnya mencapai ribuan sudah mendirikan pos siaga
pengungsi di beberapa titik.
“Pos pengungsi ada di tiga titik.
Yaitu, di lapangan Tuwel, Suniarsih, dan Batumirah,” kata Komandan
Kodim 0712/Tegal Letkol (inf) Jefson Marisano.
Jefson mengungkapkan, ada dua kecamatan
yang rawan jika Gunung Slamet mengeluarkan lahar panas. Dua kecamatan
itu, yakni Bojong dan Bumijawa, berjarak sangat dekat dengan puncak
Gunung Slamet. "Sekitar 6,5 kilometer,” ucapnya.
Sementara itu, pakar vulkanologi Surono
mengatakan bahwa aktivitas yang ditunjukkan Gunung Slamet masih
tergolong biasa sebagai gunung api. Karena itu, masyarakat tidak perlu
panik.